Cuaca hari ini sangat panas membakar kulitku, tapi langsung terasa adem setelah melihat toko itu. Sejenak aku berhenti di depan sebuah toko berwarna hijau di sudut jalan Soedirman, tepat di pojok. Belum pernah kutemui toko ini sebelumnya, mungkin toko baru. Kuamati toko itu, semua serba hijau. Pintu, jendela, gorden, dinding, karpet, bahkan atap pun berwarna hijau. Terlihat kontras sekali dengan toko-toko di sebelahnya kanannya. Mungkin pemilik toko ini suka warna hijau, atau mungkin ibunya, atau bapaknya, pacarnya, suaminya, istrinya, atau anaknya yang suka warna hijau, entahlah, atau mungkin saja toko ini dalam program antiglobal warming, jadinya cinta sama penghijauan, atau bisa juga waktu toko ini dibangun, cuma warna hijau yang tersisa. Aduh, pikiranku kok jadi melantur ke mana-mana. Ini toko sebenarnya toko apa sih?
Kulayangkan pandanganku pada bagian atas toko itu. Tertulis Soedirman Hijau. Nama yang aneh, batinku.
Naluri kepenasaranku pun membuatku memarkir scoopy kesayanganku di pinggir jalan. Tanpa sadar kakiku pun melangkah mendekati toko itu, seolah-olah toko itu memanggilku dan menggandengku untuk masuk. Selangkah dua langkah hingga akhirnya tinggal setengah meter lagi untuk menggapai gagang pintu toko tersebut, tiba-tiba kudengar suara emas Mariah Carey menyanyikan lagu Hero dari dalam tasku, ternyata ada telepon dari Jonas, sahabatku. Aku berteman dengannya sejak SD, lulus SD kami masuk SMP yang berbeda, tapi aku bertemu lagi dengannya di SMA yang sama hingga sekarang aku sekelas dengannya di bangku kuliah. Kuangkat telepon darinya.
“Hei, Ndut, kamu di mana?”, tanya Jonas. Dia memanggilku ndut karena memang dulu waktu SD aku berbadan raksasa, untung waktu masuk SMP aku bisa menurunkan berat badanku. Dia sempat kaget melihatku tinggi langsing waktu SMA, tapi tetap saja si Jonas itu memanggilku ndut.
“Di jalan Soedirman. Ada apa?” jawabku.
“Bu Anggun udah masuk kelas, Ndut!”
“Memangnya sekarang ada kuliahnya bu Anggun ya, Nas?”
“Udah, nggak usah banyak nanya, kamu cepetan ke sini.”
Kuurungkan dulu niatku untuk masuk ke Soedirman Hijau. Kapan-kapan aja deh, pikirku. Secepat mungkin aku melaju ke kampus naik scoopy hitam-ku. Tak kupedulikan lagi berapa kecepatan yang ada di spidometerku, yang penting aku bisa ada di kelas bu Anggun sekarang. Sepanjang perjalanan aku berpikir kenapa aku bisa lupa kalau ada kuliah, kuliahnya dosen killer lagi. Tak biasanya aku seperti ini.
Sesampainya di kampus, segera kuparkir motor kesayanganku itu dan bagaikan atlet lari profesional, aku segera berlari menuju kelas. Kuketuk pintu neraka eh pintu kelasku dan segera kulangkahkan kakiku masuk. Maksud hati hendak duduk apa daya namaku keburu dipanggil sama bu Anggun.
“Mayang, kamu tahu saya kan?”
“Iya Bu saya tahu, ibu.. Bu Anggun kan?” jawabku. Kulirik Jonas, dia malah tertawa kecil melihatku. Dasar bocah, bukannya nolongin, malah seneng.
“Saya tidak bercanda! Saya paling tidak suka ada mahasiswa saya yang terlambat waktu kelas saya”, bentaknya.
“Iya, Bu, saya minta maaf, tidak akan saya ulangi lagi. Saya boleh duduk, Bu?”
“Maaf, maaf.. Kalau kata maaf berguna, kenapa ada polisi? Pokoknya hari ini kamu tidak boleh ikut kelas saya!”
“Tapi, Bu, tapi..”
“Keluaaaar…!!”
Sambil menundukkan kepala aku keluar meninggalkan kelas. Tapi entah, ada perasaan senang di hatiku, padahal aku tergolong mahasiswa yang rajin dan juga pandai, tak pernah bolos kuliah. Dengan dikeluarkannya aku dari kelas bu Anggun berarti aku punya waktu untuk melunaskan rasa penasaranku akan Soedirman Hijau. Cihuy, batinku.
Sambil tersenyum-senyum kecil aku mengendarai scoopyku kembali lagi ke jalan Soedirman. Keinginan hatiku begitu kuat untuk masuk ke dalamnya. Aku tak pernah setertarik ini sebelumnya. Aku bagaikan feromagnetik yang kuat sekali tertempel di magnet. Sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai, dendangku sepanjang jalan.
Kususuri jalan Soedirman yang cuma searah itu. Soedirman, oh Soedirman. Pemilik tokonya seperti apa ya? Pasti namanya Soedirman, atau nama kakeknya? Apa dia mengidolakan Jendral Soedirman ya? Apa gara-gara toko itu lokasinya di Jalan Soedirman? Pikiranku mulai melayang-layang ke mana-mana, menebak-nebak tanpa tahu jawabannya.
Kuberhenti di depan sebuah bangunan yang ingin sekali aku temui sejam terakhir ini. Masih sama seperti sejam lalu, tetap hijau, namanya pun tetap Soedirman Hijau. Kubaca lagi tulisan di papan nama toko itu. Soedirman Hijau, Toko Buku. Oh, toko buku, kebetulan nih, aku kan suka buku. Segera kuparkir sepedaku lalu kulangkahkan kakiku mendekati toko itu. Kubuka pintu toko yang berwarna hijau itu.
“Selamat datang, Nona”, sambut pramuniaga berbaju hijau. Begitu ramah dan lembut.
Kubalas saja dengan senyuman manisku. Ganteng juga, batinku. Kulayangkan pandanganku ke dalam isi toko ini. Serba hijau, serasa di dalam hutan, untung buku yang dijual tak berwarna hijau. Aku mulai melihat-lihat buku apa yang ada di rak-rak yang berwarna hijau itu. Ah, sama saja ternyata seperti toko buku yang lainnya.
“Cari buku apa, Nona?”
Aku tersentak kaget, pramuniaga itu tiba-tiba muncul di belakangku membuyarkan lamunanku.
“Eh, cuma lihat-lihat aja kok mas, kali aja nanti ada yang cocok.”
“Oh, iya Nona silakan.”
Hampir satu jam aku kelilingi Soedirman yang berwarna hijau ini. Belum kutemukan buku yang menarik. Sesekali kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru toko ini. Sampai detik ini belum ada pengunjung yang datang. Hanya aku seorang dan pramuniaga itu yang ada di toko ini. Tiba-tiba aku ingin pulang. Rasa lapar membuatku rindu akan masakan mamaku tercinta.
“Mari mas.”, sapaku pada pramuniaga hijau itu.
“Oh, terima kasih, Nona, atas kunjungannya. Lain kali datang lagi ya!”
Lagi-lagi aku cuma bisa tersenyum.
***
Kantin Universitas Soedirman. Stan bakso, meja 5.
“Eh, ada toko buku baru lho”, ceritaku pada Jonas keesokan harinya.
“Di mana?” tanya Jonas.
“Di Jalan Soedirman, sepertinya sih masih baru. Coba tebak nama tokonya apa?”
“Wah, apa ya? Gunung Mas? Toga Ilmu? Saturnus?”
“Hush! Ngawur kamu. Namanya Soedirman Hijau. Unik ya?”
“Hahahaha.. Untung nggak Soedirman kuning, lucu deh ngebayangin Soedirman pakai baju tentara warna kuning.”
“Hahahaha.. Bisa aja kamu, Nas. Kapan-kapan ke sana bareng yuk!”
“Gampang, bisa diatur. Eh, sudah jam segini nih. Ke kelas yuk. Nanti bu Anggun marah-marah lagi”.
“Nyindir nih?”
“Hehehehe.. Ayo cepet!” kata Jonas sambil berlari meninggalkanku.
“Hey, tunggu! Bakso kamu belum dibayar!”
***
Soedirman. Hijau.
“Selamat pagi, Nona”, sambutnya ramah seperti biasa.
“Selamat pagi”, jawabku. “Eh, mas. Toko ini kok unik ya? Semua serba hijau. Masnya juga tiap hari pakai baju warna hijau.” Aku memulai pembicaraan.
“Ah, Nona ini perhatian juga ternyata, jadi malu, hehehe.”
“Nama tokonya juga unik, Soedirman Hijau. Mas namanya Soedirman ya?”
“Iya, Nona. Kok tahu? Jangan-jangan Nona peramal ya?” tanyanya heran.
“Nggak kok, asal tebak aja.”
Bermula dari perbincangan itulah aku dan Soedirman mulai akrab. Soedirman yang suka menggaruk kepalanya meskipun aku tahu kalau itu tidak gatal. Soedirman yang suka memandangi ujung sepatunya kalau dia malu. Soedirman yang selalu memanggil aku nona meskipun sudah berkali-kali aku menyuruhnya memanggilku Mayang. Soedirman yang selalu berbaju hijau. Soedirman yang selalu tersenyum ramah. Soedirman yang tak pernah marah.
Beberapa kali aku keluar untuk sekedar ngopi dengan Soedirman. Dia orang yang benar-benar unik dan langka di dunia ini. Meskipun hidup di jaman modern seperti ini, tapi cara berpikirnya masih tradisional. Tapi itu yang membuatku nyaman dengannya. Soedirman yang polos, lugu dan tak tahu apa-apa selain yang dia ketahui. Hampir setiap pulang kuliah aku mampir ke Soedirman Hijau. Entah itu untuk beli buku sungguhan atau hanya sekedar untuk bisa melihat Soedirman. Dia sampai heran kenapa aku sering sekali main ke toko uniknya. Tapi itu bukan masalah bagiku dan juga bukan masalah baginya, yang penting buku dagangannya laku terjual, itu yang ada dalam pikirannya. Dalam sekejap aku dan Soedirman sudah berteman akrab, saling mengenal satu sama lain, entah apa yang membuatku begitu nyaman berada di dekatnya. Hingga akhirnya aku dan dia mengikrarkan sebuah janji, janji untuk selalu berjalan beriringan.
***
Aku bercerita pada Jonas panjang lebar mengenai Soedirman. Soedirman yang ini itu, Sordirman yang begini begitu, bla bla bla.
“Hayo.. kamu suka ya sama Soedirman?” tanyanya genit.
“Hahahaha.. Tahu nggak kamu? Aku sudah jadian sama dia lho. Aku ngerasa nyaman banget deket dia. Aku nggak pernah senyaman ini sebelumnya.”
“Wah, kamu nggak jomblo lagi dong sekarang? Aku jadi pengen ketemu nih sama Soedirman si hijau itu. Seperti apa sih dia? Pasti gantengan aku, hahaha..”
“Ya nanti aku kenalin kamu sama dia. Kamu pasti suka. Dia orangnya baik banget.”
“Yah, itu sih terserah kamu, Ndut, aku jadi makmum aja.”
“Okelah kalau begitu.”
Jonas itu sahabat terbaikku. Dia selalu ada saat aku butuh teman untuk cerita. Dia yang selalu setia mendengar keluh kesahku, gembiraku, marahku. Hanya dia sahabatku satu-satunya yang mengerti aku. Entah apa jadinya aku tanpa adanya Jonas. Sungguh aku bersyukur sekali punya sahabat seperti dia. Aku merasa diriku sangat beruntung. Ada Jonas, ada Soedirman. Ingin sekali aku mempertemukan mereka berdua.
Keesokan harinya.
“Ndut, Soedirman Hijau yang sering kamu ceritakan itu ada di Jalan Soedirman kan? Kok nggak ada ya? Kamu bilang yang paling pojok warna hijau. Aku kok nggak lihat ada toko warna hijau tuh,” kata Jonas.
“Ah, masak sih, Nas? Kamu kurang teliti mungkin ngelihatnya, jadinya kelewatan deh. Aku lho sering main ke sana, ketemu Soedirman, terus juga beli buku, kamu tahu sendiri kan?” jawabku dengan heran.
“Iya aku tahu, Tapi beneran, Ndut, aku uda ngepastiin sampai lewat tuh jalan dua kali, tapi memang beneran gak ada. Nanti sore kita ke sana gimana?”
“Nggak mungkinlah kalau nggak ada. Kemarin lho aku baru ke sana ketemu Soedirman. Masa iya sekarang nggak ada? Apa dia pindah toko ya? Tapi dia kok nggak bilang ke aku?”
“Ya sudah, mungkin memang aku yang salah. Nanti sore aja kita cek lagi bareng-bareng, gimana?”
“Iya, aku jadi penasaran, Nas, mungkin aja si Soedirman itu bener-bener pindah.”
Sepanjang jam kuliah, pikiranku tak tenang, entah mengapa aku begitu memikirkan perkataan Jonas tadi pagi. Aku tak sabar ingin segera meninggalkan kelas untuk memastikan keberadaan Soedirman pemilik Soedirman Hijau di jalan Soedirman. Oh, Soedirman. Semoga kamu tetap di Soedirman Hijau-mu, jangan pergi ke mana-mana. Kalau kamu memang betulan pindah, setidaknya kamu bisa hubungin aku dulu, jangan seperti ini.
Akhirnya sore tiba. Aku melaju dengan scoopy hitamku ditemani dengan Jonas untuk memastikan keberadaan Soedirman di jalan Soedirman. Benar apa kata Jonas, tak kutemukan warna hijau yang ada di pojok jalan Soedirman. Kususuri berkali-kali tetap saja tidak kutemukan Soedirman Hijau. Aku semakin cemas. Gelisah. Di mana Soedirman?
Aku berhenti tepat di depan Soedirman Hijau yang tak lagi hijau tapi berubah menjadi reruntuhan bangunan yang tak berpenghuni.
“Tuh kan May, kubilang juga apa. Nggak ada Soedirman Hijau di sini.”
“Nggak mungkin, Nas. Jelas-jelas aku ketemu Soedirman ya di sini. Ada toko buku yang semua serba hijau, bukan reruntuhan kayak gini. Lagian, jahat banget sih si hijau itu nggak ngasih tahu aku kalau mau pindah?”
“Emm.. gimana kalau kita tanya aja orang-orang di sekitar sini. Kali aja mereka tahu sesuatu,” usul Jonas.
Akhirnya aku dan Jonas bertanya ke bapak penjual alat listrik tak jauh dari Soedirman Hijau.
“Permisi, Pak, numpang tanya,”
“Iya, ada yang bisa dibantu, Neng?” jawab bapak itu ramah.
“Itu, Pak, Bapak tahu toko buku Soedirman Hijau yang ada di pojok jalan ini?”
“Soedirman Hijau? Nggak ada tuh, Neng. Bapak sudah sepuluh tahun di sini tapi nggak ada toko buku yang namanya apa tadi, Neng?”
“Soedirman Hijau, Pak.”
“Emm.. Nggak ada, Neng, yang namanya kayak gitu. Beneran deh.”
“Masa sih, Pak? Saya kemarin habis beli buku di situ, pemiliknya namanya Soedirman. Beneran Bapak nggak kenal?”
“Beneran nggak ada, Neng, sungguh. Neng tanya aja ke toko-toko yang lain.” kata bapak itu sungguh-sungguh.
Aku tak percaya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Jadi selama ini Soedirman itu siapa? Aku beli buku di mana? Aku minum kopi dengan siapa? Pikiranku kosong seketika.
“Jonas, gimana ini? Soedirman nggak ada. Jadi selama ini Soedirman itu siapa? Yang aku temui itu siapa sebenarnya?” tanyaku sambil teriak-teriak ke Jonas.
“Neng, ngomong sama siapa? Gak ada orang, Neng,” kata bapak itu.
“Ini temen saya, Pak, namanya Jonas. Dari tadi kan dia sama saya.”
“Nggak ada siapa-siapa di sini. Sadar, Neng, sadar.”
“Nggak mungkin, Pak. Saya tadi ke sini kan sama temen saya.”
“Beneran, Neng. Neng tadi ke sini sendirian, nggak bawa temen.”
Aku Cuma bisa terpaku mendengar perkataan bapak itu.
Jadi, selama ini Jonas itu siapa?
Soedirman itu siapa?
Tidaaaaaaaaaakk……!!

0 komentar:
Kaskus
Only
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:kiss
:maho
:najis
:nosara
:marah
:berduka
:malu:
:ngakak
:repost:
:repost2:
:sup2:
:cendolbig
:batabig
:recsel
:takut
:ngacir2:
:shakehand2:
:bingung
:cekpm
:cd
:hammer
:peluk
:toast
:hoax:
:cystg
:dp
:selamat
:thumbup
:2thumbup
:angel
:matabelo
:mewek:
:request
:babyboy:
:babyboy1:
:babymaho
:babyboy2:
:babygirl
:sorry
:kr:
:travel
:nohope
:kimpoi
:ngacir:
:ultah
:salahkamar
:rate5
:cool
:bola
by Pakto
:mewek2:
:rate-5
:supermaho
:4L4Y
:hoax2:
:nyimak
:hotrit
:sungkem
:cektkp
:hope
:Pertamax
:thxmomod
:laper
:siul
:2malu:
:ngintip
:hny
:cendolnya
by misterdarvus
:maintenis:
:maintenis2:
:soccer
:devil
:kr2:
:sunny
Posting Komentar